Puisi | The Solar Forge

Tempa Surya

Matahari selalu menjadi api pertama kita.
Itu menyalakan tempa kuno bumi,
Mengubah Karbon Menjadi Hutan
lautan menjadi kehidupan,
dan pasir menjadi kaca yang bisa menangkap cahayanya.

Sekarang, kita berdiri di tepi bengkel baru—
yang kami buat dengan silikon dan perak,
dengan cermin yang melengkung seperti tangan terbuka,
dan panel yang meminum cahaya seperti tanah yang haus.

Ini bukan hanya energi.
Ini adalah alkimia.
Kita mengubah foton menjadi kekuatan,
siang hari menjadi beberapa dekade,
dan tumpahan matahari yang tak terbatas
menuju masa depan yang tidak terbakar.

Bayangkan sebuah dunia di mana setiap atap adalah pembangkit listrik,
di mana jalan raya dilapisi dengan kulit matahari,
dan gurun mekar dengan susunan yang bersenandung
seperti paduan suara mesin diam.
Bayangkan sebuah grid yang tidak mencekik langit,
tetapi bernafas bersamanya—
sebuah simfoni sirkuit yang bersih dan tak terputus,
di mana kelimpahan matahari tidak terbuang sia-sia,
tetapi dijalin ke dalam jalinan kehidupan kita.

Namun, bengkel ini bukannya tanpa percikan api.
Logam yang kita tambang, tanah yang kita klaim,
Keseimbangan yang harus kita capai antara kemajuan
dan pelestarian—
ini adalah beban yang kami bawa
saat kita membentuk api baru ini.
Tapi matahari tidak menghakimi.
Itu hanya memberi.
Dan terserah kita untuk mengambil dengan bijak.

Ini bukan hanya tentang teknologi.
Ini tentang visi.
Ini tentang melihat langit
dan tidak hanya melihat bintang,
tetapi seorang mitra.
Seorang kolaborator.
Sekutu yang diam dan tak henti-hentinya
dalam pekerjaan membangun dunia
yang tidak meminjam dari masa depan,
tetapi berinvestasi di dalamnya.

Jadi marilah kita terus maju—
bukan dengan kesombongan para penakluk,
tetapi dengan kerendahan hati siswa.
Mari kita belajar dari keteguhan matahari,
kemurahan hatinya,
penolakannya untuk meredupkan.
Dan mari kita membangun masa depan
yang bersinar seterang sumbernya
yang memberdayakannya.

Ikuti kami di bluesky
@futurekeepers.world